Berita Dan Informasi

++++++
Thursday, August 25, 2016

tolong baca dan sebarkan Ibu ini senang bisa menawar harga dengan murah namun suaminya malah marah !!!ini dia pengyebab nya!!!


Bagi perempuan, menawar barang dengan harga terjangkau umumnya senantiasa dibanggakan. Namun, taukah bila menawar harga pada pedagang dengan harga yang tidak masuk akal jadi jadi perbuatan yang semena-mena.

Ada satu cerita mengenai seseorang istri dengan membanggakan kelihaiannya untuk menawar barang. Namun kesempatan ini, suami geram besar saat sang istri dapat menawar harga yang begitu murah. Mengapa? Beginilah ceritanya :

Sebagai istri saya pasti menginginkan disayang suami. Belajar masak, rajin bersih-bersih tempat tinggal, berlaku lembut penuh cinta pada suami, serta berupaya irit dalam pemakaian duit berbelanja agar dimaksud istri cerdas serta yang tersayang.

Setiap saat berbelanja dimanapun, saya tentu ngotot berupaya menawar dagangan dengan harga semurah mungkin saja. Potongan harga seribu dua ribu saya kejar, walau sebenarnya daya yang di keluarkan untuk tawar-menawar panjang dapat kian lebih itu.



Namun untuk disayang suami, saya tetep ngotot. Seringkali suami yang mengantar mulai tak sabar serta geleng-geleng kepala. Saya sih cuek saja, istri pelitnya ini senantiasa beralasan sama, kan agar irit.

Satu sore sesudah capek keliling pasar, di perjalanan menuju parkiran mobil seseorang pedagang tanaman bunga yang berumur sepuh tawarkan dagangannya :

Pedagang : “Neng, beli neng dagangan ayah, bibit bunga mawar 5 pot hanya 25. 000 per pot”

Semula saya cuek, namun mendadak teringat pekarangan mungil dirumah yang kosong, wah murah nih fikir saya, hanya 25. 000/pot, namun ah tentu dapat ditawar.

Saya : “Ah mahal banget pak 25. 000, telah 10. 000/pot, ” dengan style cuek saya menawar sadis.

Pedagang : “Jangan neng, ini bibit bagus. Ayah jual telah murah, 15. 000 saja bagaimana neng ayah telah sore ingin pulang. ”

Saya sangsi sesaat, memanglah murah sih. Di toko, bibit bunga mawar sekurang-kurangnya 45. 000 harga 1 pot nya. Namun bukanlah saya dong bila tak berjuang.

Saya : “Halah telah pak, 10. 000 ribu saja 1 bila tidak diberi ya tidak apa-apa, ” saya bertandingk akan pergi.

Pedagang : “Eh neng…, ” dia sangsi sesaat serta menghela nafas. “Ya telah neng tidak apa-apa 10. 000, namun neng ambillah semua ya, ayah ingin pulang telah sore. ”

Saya : (Saya bersorak dalam hati. Yeee…menang) “Oke pak, jadi 50. 000 ribu ya utk 5 pot. Bawain sekalian ya pak ke mobil saya, tuh yang di ujung parkiran. ”

Saya juga melenggang pergi menyusul suami yang telah duluan. Si ayah pedagang ikuti di belakang. Sesampainya di parkiran, si ayah menolong menyimpan pot-pot tadi kedalam mobil, saya membayar 50. 000 lantas si ayah tadi selekasnya pergi. Lantas terjadi pembicaraan tersebut dengan suami,

Saya : “Bagus kan yang, saya dapet 5 pot bibit bunga mawar harga terjangkau. ”

Suami : “Oohh.. berapakah anda bayar? ”

Saya : “50 ribu. ”

Suami : “Hah…!!! Itu semuanya 5 pot? ” dia kaget.

Saya : “Iya dong… hebat kan saya nawarnya? Tadi Dia nawarinnya 25. 000 1 pot, ” saya tersenyum lebar serta bangga.

Suami : “Gila anda, sadis sangat. Pokoknya saya tidak ingin tahu. Anda susul itu si ayah saat ini, anda bayar dia 125. 000 lebih gaji bawain ke mobil 25. 000 lagi. Nih, anda kejar anda kasi dia 150. 000! ”

Suami membentak keras serta geram, saya kaget serta bingung.

Saya : “Tapi… mengapa..? ”

Suami : Semakin kencang ngomongnya, “Cepetan susul sana, tunggulah apa lagi. ”

Tidak mau dibentak lagi, saya segera turun dari mobil serta lari menguber si ayah tua. Saya saksikan dia akan naik angkot di tepi jalan.

Saya : “Pak…… tunggulah pak…”

Pedagang : “Eh, neng mengapa? ”

Saya : “Pak, ini duit 150. 000 pak dari suami saya tuturnya buat ayah, ayah terima ya, saya tidak ingin dibentak suami, saya takut. ”

Pedagang : “Lho, neng kan tadi telah bayar 50. 000, bener kok uangnya, ” si ayah keheranan.

Saya : “udah ayah terima saja. Ini dari suami saya. Tuturnya harga bunga ayah pantesnya dihargain segini, ” sembari saya serahkan duit 150. 000 ke tangannya.

Pedagang : Mendadak menangis serta berkata, “Ya Allah neng… terima kasih banyak neng… ini jawaban do'a ayah sejak dari pagi, sepanjang hari dagangan ayah tidak ada yang beli, yang noleh juga tidak ada. Anak istri ayah lagi sakit dirumah tidak ada duit buat berobat.

Cocok neng nawar ayah fikir tidak apa-apa harga segitu asal ada duit buat beli beras saja buat makan. Ini ayah ingin cepat-cepat pulang kasian mereka nunggu. Terima kasih ya neng… suami neng orang baik. Neng juga baik jadi istri nurut sama suami, Alhamdulillah ya Allah. Ayah pamit neng ingin pulang…, ” serta si ayah juga berlalu.

Saya : (speechless serta kembali pada mobil).

Selama perjalanan saya diam serta menangis, benar kata suami, tak layak menghormati jerih payah orang dengan harga semurah mungkin saja cuma lantaran kita pelit. Berapakah banyak usaha si ayah hingga bibit itu siap di jual, tak terpikirkan oleh saya.

Mulai sejak itu, saya beralih serta tidak pernah lagi menawar sadis pada pedagang kecil manapun. Yakin saja kalau rezeki telah ditata oleh Tuhan.

Beberapa ribu orang menangis membaca narasi ini, pengingat untuk kita yang terkadang tak adil dalam memperlakukan orang lain semena-mena. Mudah-mudahan tak berlangsung pada anda..... Bila itu berlangsung, bisa jadi bahan pertimbangan.

وَمَن�' يُوقَ شُحَّ نَف�'سِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ ال�'مُف�'لِحُونَ
 " Serta barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dianya, jadi mereka tersebut beberapa orang yang mujur " (At-Taghobun : 11)
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

0 komentar:

Post a Comment