Berita Dan Informasi

++++++
Wednesday, August 24, 2016

'Wahai Penduduk Bumi, Saksikanlah, Inilah Muka Guru yang Selalu Menghukum Aku'



Semua orang yang pernah bersekolah tentu mempunyai masa lalu sendiri pada sebagian guru maupun dosen yang pernah mengajarnya dulu, baik di saat Sekolah Basic, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas atau bahkan juga Perguruan Tinggi.

Pastinya yang paling diingat yaitu guru atau dosen yang baik hati serta satu lagi yaitu guru atau dosen yang galak dengan kata lain sukai sebagian geram serta memberi hukuman bila si murid berbuat salah.

Spesial untuk guru paling akhir ini, umumnya saat itu kita bakal terasa kesal serta malu atas hukuman yang didapatkan.

Tidak ayal, kadang-kadang nampak julukan-julukan buruk pada si guru yang galak tadi.




Barulah sesudah usai tamat sekolah, si murid tersadarkan kalau niatan si guru memberi hukuman untuk kebaikannya sendiri.

Sepertihalnya, Nik Lutfi yang menginginkan bercerita pengalamannya pada saat sekolah dulu berbarengan buk guru, Raihanah yang mengajar pelajaran bhs inggris.

Nik Lutfi yang saat itu bandel serta 'gagap' atau tak dapat berbahasa inggris, saat ini jadi seorang yang berhasil serta menginginkan semuanya didunia tahu bila kesuksesannya sekarang ini tak terlepas dari ketrampilannya 'bercap-cip-cus' bhs asing, yang dahulu tak dikuasainya. Tersebut Cerita yang ditulis Nik Lutfi seperti ditulis dari fanspage My Media Hub :
Orang repot mem-viralkan permasalahan guru itu, guru ini. Saat ini saya nak viral juga, siap kau guruku!

Wahai masyarakat bumi, saksikanlah, berikut muka guru yang senantiasa menghukum saya berdiri diatas kursi, diatas meja, dibawah meja serta hukuman yang lain.

Apabila saya tidak bisa jawab pertanyaannya, " On the chair....!!! ".
Tidak berhasil jawab lagi, " On the table...!!! ", dan sebagainya,
 " Under the table! ". Merangkaklah saya dibawah meja hingga habis pelajaran dia.
Th. 1999, masihlah fresh dalam ingatan saya.
Dalam satu tahun dia mengajar, ada sehari itu, dia memberikan pujian pada saya.

 " I like the ending of your essay, Nik, ". (Saya sukai akhir dari esai Anda, Nik)

Besoknya kembali pada seperti umum, (dihukum) " on the chair ", " on the table ", " under the table " hingga akhir th..

Orangnya garang, sulit tersenyum. Tegas, sukai memberi homework (pekerjaan tempat tinggal).
 " I asked you in english, do answer me in english!! " (Saya ajukan pertanyaan dalam bhs Inggris, jadi jawab saya dalam bhs Inggris!! ") tegasnya.

Bikin saya tergagap-gagap ingin menjawab pertanyaannya.
Serta umumnya selesai dengan " on the chair ", " on the table ", " under the table ".

Saya panggil dia 'teacher on the chair', 'teacher on the table', 'teacher under the table'.

Sesuka mulut saya saja panggil guru dengan nama itu.
Sampai pada akhirnya saya lulus serta telah bertahun-tahun berlalu, baru semalam saya di beri peluang berjumpa lagi dengannya.

Huh! Dahulu ibu sukai hukum saya kan? Well buk guru, I want the whole world to know! Do read these! (Saya menginginkan semua dunia tahu! Untuk membaca ini!)

Wahai Teacher Raihanah yang dahulu saya panggil 'teacher on the chair', yang dahulu sukai hukum saya. Saya menginginkan katakan ;

Terima kasih buk guru! Jutaan terima kasih yg tidak terhingga lantaran menghukum saya.

Jutaan terima kasih kerana menyuruh saya berdiri diatas kursi, meja serta bersila dibawah meja, mengajarkan saya bhs inggris serta untuk segala-galanya!

Dalam hukuman buk guru itu mengalirnya karena.

Mungkin saja hukuman itu terselip ranya ikhlas.
Mungkin saja jelingan maut buk guru itu tersimpan berjuta kasih sayang.

Yang dulunya saya tidak bisa memandangnya sebab tertutup dengan ego, yang terasa diri ini prima.
Tetapi saya lupa bila guru itu pewaris nabi, penghubung pengetahuan dari Allah.

Pengetahuan itu sinar, guru cuma menginginkan bawa sinar masuk kedalam otak saya yang kelam serta kosong serta paling utama sekali guru menginginkan saya sukses kan?

Buk Guru, saya dah sukses! Pengetahuan yang buk guru ajar dahulu saya telah pakai dengan baiknya.
Alhamdulillah. In fact (Kenyataannya) hingga saat ini saya pakai sebab saya juga telah jadi guru Bhs Inggris seperti buk guru Raihanah.

Saya praktikkan semuanya yang buk guru ajar dahulu termasuk juga 'on the chair' and it works! I suppose.
Saya juga menginginkan jadi garang seperti buk guru.

Saya menginginkan anak murid saya ketahui menilainya pengetahuan itu serta tak gampang untuk mencari pengetahuan.

Sebab bila begitu mudah, they tend to forget everything (mereka condong lupa semuanya). Kan buk guru?

Anyway it's not about them, not about me, it's about you. (Pokoknya itu bukanlah mengenai mereka, bukanlah mengenai saya, itu mengenai anda).
Wahai pemuja Facebook, keyboard warrior, hargailah guru anda.
Dalam garang ada sayangnya, dalam bengis ada berkatnya, dalam geram ada doanya.

Serta buk guru, biarkanlah orang ingin berkata apa pada buk guru.
Pada saat saya hidup, nama buk guru sentiasa ada pada doa saya.
Terima kasih buk guru. ibu tetaplah guru saya hingga kapan juga (*)
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : 'Wahai Penduduk Bumi, Saksikanlah, Inilah Muka Guru yang Selalu Menghukum Aku'

0 komentar:

Post a Comment